PELAKSANAAN SURVEI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK (ANTIMICROBIAL USAGE) DI PETERNAKAN AYAM BROILER

17 September 2018
PELAKSANAAN SURVEI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK (ANTIMICROBIAL USAGE)  DI PETERNAKAN AYAM BROILER

Menindaklanjuti hasil pelatihan enumerator survei Penggunaan Antibiotik/Antimicribial Usage (AMU) dari FAO bekerjasama dengan USAID pada tanggal 2-4 Agustus 2018, maka dilakukan survei AMU di Kota Pontianak dengan target 60 peternakan. Pada waktu yang bersamaan juga dilaksanakan pelatihan serupa melibatkan Provinsi Lampung dan Jawa Tengah. Adapun latar belakang dilaksanakannya survei ini adalah karena AMU mempercepat terjadinya resistensi antimikroba, untuk mengetahui pola AMU di peternakan unggas, mendapatkan pengetahuan AMU sebagai dasar pembinaan peternak dan pengambilan kebijakan pemerintah/swasta, dan karena belum banyak survei AMU bidang peternakan dilakukan di Indonesia.

Rekomendasi global yang melibatkan tiga organisasi dunia yaitu FAO-OIE-WHO terhadap Resistensi Antimikrobial/Antimicrobial Resistance (AMR) adalah jika tidak ada upaya pengendalian global, maka di tahun 2050 diperkirakan AMR menjadi pembunuh nomor satu di dunia dengan angka kematian mencapai 10 juta jiwa. Di Eropa, 25.000 pasien meninggal per tahun akibat bakteri yang sudah resisten terhadap berbagai obat, sementara di Amerika ditemukan >2 juta kasus infeksi bakteri yang telah resisten per tahunnya.

Pemilihan survei pada ayam broiler sendiri didasarkan karena daging ayam merupakan sumber protein hewani yang mudah didapat dan murah sehingga banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Dua jenis form survei yang digunakan yaitu form Survei Penggunaan Antibiotik pada Peternakan dan kuesioner Persepsi mengenai Penggunaan Antibiotik dan Resistensi Antibiotik. Berdasarkan hasil survei terhadap peternakan ayam broiler yang telah dilakukan di Kota Pontianak, banyak peternak kecil yang sudah tidak melanjutkan usahanya lagi karena bibit (DOC) yang sulit dan harga yang mahal, sehingga hanya 40 peternakan yang berhasil disurvei. Populasi ternak yang disurvei berkisar 1.000 ekor sampai dengan 20.000 ekor. Di samping melakukan survei, petugas enumerator juga sekaligus memberikan sosialisasi (pencerahan) kepada peternak yang belum memahami mengenai penggunaan antibiotik yang bijak seperti dosis yang tidak tepat, waktu (lama) pemberian yang tidak tepat, masa henti obat yang tidak tepat, dan tidak adanya rotasi penggunaan antibiotik. Hasil survei ini kemudian akan dikirim ke FAO dan Kementerian Pertanian RI untuk dikaji lebih lanjut mengikuti hasil survei yang telah dilakukan sebelumnya pada tahun 2017 di Provinsi Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Jawa Timur (Sofia).

 

Op. Bid Peternakan