Inside UPTD Agribisnis

21 Agustus 2019
Inside UPTD Agribisnis

Kota Pontianak memiliki struktur tanah gambut menjadi alasan kenapa tanaman Lidah Buaya (Aloe vera; Latin: Aloe barbadensis Milleer) ini yang dipilih untuk dikembangkan . Potensi ini dimanfaatkan dengan mendirikan kawasan agro wisata Aloe Vera Center yang terkenal di kalangan masyarakat serta wisatawan lokal maupun mancanegara. Aloe Vera Center Pontianak terletak di Jl. Budi Utomo No.29, Siantan Hilir, Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78243.

Sebagai bahan makanan dan minuman kesehatan. Secara umum, lidah buaya merupakan salah satu dari 10 jenis tanaman terlaris di dunia yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai tanaman obat dan bahan baku industri. Aloe vera juga kaya akan kandungan gizi, seperti: asam amino, mineral, vitamin, polisakarida dan komponen lain yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Lidah buaya diketahui berkhasiat sebagai anti inflamasi, anti jamur, anti bakteri dan membantu proses regenerasi sel. (sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Lidah_buaya)

Di kawasan Aloe Vera Center ini kita bisa melihat sendiri bagaimana tanaman Aloe vera tersebut di uji coba dengan memanfaatkan teknologi tepat guna menjadi bermacam-macam jenis makanan khas, seperti: dodol, jelly, cokelat, minuman sari lidah buaya, teh dan berbagai macam jenis kuliner khas lainnya. Produk olahan dari berbagai industri dan UKM ini telah diekspor ke beberapa negara tetangga kita. Pengunjung dapat mencicipi makanan hasil olahan tersebut ataupun menjadikannya sebagai oleh-oleh khas Pontianak. Selain itu, Aloe Vera Center Pontianak juga dapat menerima kunjungan industri/edukasi rombongan dari berbagai komunitas maupun instansi, baik sekolah, pemerintah maupun swasta.

Selain itu di dalam kawasan UPTD Agribisnis ini, juga terdapat Orchid Center, yaitu : pusat pembudidayaan berbagai macam anggrek, termasuk anggrek hitam (Coelogyne pandurata) yang merupakan jenis anggrek khas Kalimantan yang kini sudah mulai langka. Mengantisipasi kepunahan anggrek spesies, dapat dilakukan dua cara konservasi. Pertama, konservasi secara ex-situ yakni konservasi anggrek spesies dikoleksi dan ditanam di luar habitat aslinya, seperti melaksanakan budidaya Anggrek hitam secara Teknik Kultur jaringan yaitu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman (protoplasma, sel, jaringan, organ) serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptic sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali. Cara kedua yakni konservasi dilakukan secara in-situ. Artinya, anggrek spesies dibiarkan hidup di habitatnya untuk melindungi ekosistim dan habitat alaminya. Orchid  Center sebagai pusat edukasi, Anggrek Hitam sudah berhasil diperbanyak di laboratorium kultur jaringan dan biji. (sumber : https://pertanian.pontianakkota.go.id/berita/109-teknik-kultur-jaringan-alternatif-uptd-agribisnis-melestarikan-anggrek-hitam-ceologyne-pandurata.html)

Dan tidak jauh dari Orchid Center ini terdapat lokasi  Pusat Pembesaran Ikan Hias (Raiser) tepatnya Jl. Parit Pangeran Kelurahan Siantan Hulu Kecamatan Pontianak Utara, Setiap tahunnya ada anak-anak magang yang melakukan praktek disana. Potensi komoditi ikan hias Kota Pontianak menunjukkan prospek yang baik untuk dikembangkan sebagai komoditi unggulan bidang perikanan. Berbagai jenis ikan hias air tawar dibudidayakan sehingga kemampuan untuk memenuhi pasar ikan hias juga dapat diupayakan semakin baik. Salah satu program Pemerintah Kota Pontianak adalah mengembangkan bibit ikan hias yang berdaya jual tinggi dengan membangun suatu Raiser untuk ikan hias. ( Arifin ­Perencanaan )

Administrator