SCABIES

11 Desember 2018
SCABIES

(Oleh : drh. Sofia Febriyanita)

Medik Veteriner Muda

 

Scabies (kudis) disebabkan oleh tungau terkecil dari Ordo Acarina yaitu Sarcoptes scabbiei var. canis. Tungau yang berbentuk hampir bulat dengan 8 kaki pendek, pipih, berukuran 300-600 µ x 250-400 µ pada betina dan 200-240 µ x 150-200 µ pada jantan, biasanya hidup di lapisan kulit epidermis. Sarcoptes merupakan tungau penggali superfisial dan bersifat zoonosis. Scabies sering terjadi pada anjing dan ternak (sapi, kambing, domba, babi, kuda, kelinci), spesies hewan lain seperti serigala, wombat, dan manusia. Penularan Scabies pada kucing jarang terjadi karena lebih sering disebabkan oleh tungau Notoedres cati.

Gambar 1. Tungau Sarcoptes

Daur Hidup

Tungau betina secara aktif membuat liang di dalam kulit epidermis atau lapisan tanduk, meletakkan 2-3 butir telur setiap hari. Telur menetas dalam 2-4 hari dan keluar larva berkaki 6. Dalam waku 1-2 hari larva berubah menjadi nimfa stadium pertama dan kedua yang berkaki 8, kemudian menjadi tungau betina muda yang siap kawin, dan menjadi dewasa dalam 2-4 hari. Waktu yang diperlukan telur menjadi tungau lebih kurang 17 hari. Tungau dan larva hidup dengan memakan reruntuhan jaringan.

Gambar 2. Siklus Hidup Sarcoptes

Patogenesis

Tungau menembus kulit, mengisap cairan limfe, dan memakan sel-sel epidermis. Rasa gatal yang kuat dialami hewan dan bila digosok-gosokkan atau digaruk semakin bertambah gatal dan sakit, akibatnya terjadi lecet-lecet serta kerontokan rambut. Lecet menyebabkan keluarnya cairan serum (eksudat) yang menggumpal dan kering membentuk sisik-sisik di permukaan kulit (keropeng). Selanjutnya terjadi keratinisasi dan proliferasi jaringan ikat sehingga kulit menebal, berkerut dan tidak rata permukaannya.

Gejala Klinis

  1. Tungau memilih berkembang di pemukaan tubuh yang jarang rambutnya, seperti kulit bagian muka dan daun telinga (kambing, domba, kelinci), kaki, moncong, pangkal ekor (anjing, serigala), kepala dan leher (kuda), daerah pinggul dan leher (sapi), atau di punggung (babi).
  2. Lesi akan meluas ke bagian tubuh lain termasuk yang berambut tebal. Domba yang memiliki wol tebal jarang terserang.
  3. Rasa gatal dan ketidaktenangan dan hewan menggosok-gosokkan badannya.
  4. Perubahan patologi berupa eritema, pruritus, kemudian muncul papula yang pecah sehingga terjadi pengelupasan kulit, terbentuk sisik-sisik dan kudis. Bentuk kudis mungkin kering, kurang jelas berbatas, dan tepinya tampak tidak beraturan.Rambut rontok dengan lesi tepi yang tidak rata, tidak begitu menonjol dari permukaan, bersisik atau berkeropeng, dan bentukan papula.
  5. Nafsu makan menjadi berkurang, kurus, dan bau apek. Di sekitar tempat tidur ditemukan reruntuhan jaringan kulit.

Gambar 3. Kambing Scabies

Gambar 4. Anjing Scabies

Diagnosa

  1. Sejarah dan gejala klinis
  2. Reflek pinnal-pedal (70-90%) yaitu gerakan reflek menggaruk dengan kaki belakang apabila bagian telinga digosok/digaruk.
  3. Perlu dibedakan dengan demodikosis yang disebabkan Demodex canis, eczema, infeksi jamur, atau radang kulit (dermatitis) secara mikroskopis dengan ‘deep skin scrapping’. Scabies sering disalahartikan dengan jamur oleh pemilik hewan.

Terapi

  1. Hewan yang terinfeksi termasuk yang kontak harus diobati
  2. Terapi antiparasit seperti Selamectin, Moxidectin, Amitraz 5%, Asuntol, Ivermectin, Milbemycin.
  3. Obat yang bukan lisensi untuk Sarcoptes (termasuk obat ekstra label/herbal) seperti 2-3% lime sulfur, belerang atau minyak pelumas bekas yang dioles juga dapat digunakan (tungau mati karena kurang oksigen).
  4. Manajemen lingkungan dengan mencegah kontak antara hewan sehat dengan fomites yang terinfestasi tungau (misalnya, alas hewan, pakan dan wadah air, kandang dan peralatan lainnya).
  5. Terapi terhadap lingkungan seperti menyingkirkan/membersihkan alas (bedding), spray/pembersihan dengan antiparasit terhadap lingkungan.
  6. Isolasi hewan yang sakit selama 2 minggu sering direkomendasikan untuk mencegah atau membatasi penyebaran tungau yang bersifat menular.
  7. Lebih baik segera bawa hewan peliharaan ke dokter hewan terdekat. Dokter akan memberikan beberapa alternatif pengobatan tergantung kondisi hewan serta tingkat keparahan dengan obat-obatan seperti di atas.

 

Referensi :

Sue Paterson. 2008. Manual of Skin Diseases of Dog and Cat 2nd Edition. Blackwell Publishing : United Kingdom

Subronto. 2006. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.

Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak (Mammalia) 1. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.

Sumber Foto :

https://www.peternakankita.com/cara-mengobati-penyakit-kudis-pada-kambing/

https://student.unud.ac.id/miamonica96/news/59762

https://dermatologycentral.typepad.com/resource/2009/07/scabies-slide-show.html

Op. Bid Peternakan