UPSUS SIWAB: Upaya Pemerintah Meningkatkan Ketahanan Pangan Negara Melalui Peningkatan Populasi Dan Ketersediaan Daging Sapi Dan Kerbau

31 Juli 2018
UPSUS SIWAB: Upaya Pemerintah Meningkatkan Ketahanan Pangan Negara Melalui Peningkatan Populasi Dan Ketersediaan Daging Sapi Dan Kerbau

Kebutuhan akan daging sapi dan kerbau di Indonesia membutuhkan ketersediaan hewan sapi dan kerbau di pasaran. Perbedaan populasi sapi di setiap daerah dapat menyebabkan perbedaan harga daging sapi. Permintaan yang tinggi dari masyarakat pun dapat menyebabkan kenaikan harga sapi (Prasetyo dkk, 2010). Berdasarkan data Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2017 Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, jumlah pemotongan sapi di Provinsi  Kalimantan Barat untuk periode 2013-2017 menunjukkan fluktuasi yang cenderung menurun. Jumlah pemotongan tahun 2016 sebesar 36.347 Ekor, menurun dari tahun sebelumnya yaitu 2015 sebesar 39.564 ekor.  Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka perlu dibuat suatu sistem pengelolaan terhadap ketersediaan sapi di Indonesia secara umum dan di setiap daerah secara khusus.

UPSUS SIWAB (Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting) adalah kegiatan yang di programkan oleh negara melalui kementrian pertanian republik Indonesia. Dasar hukum pelaksanaan UPSUS SIWAB Secara teknik tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian nomor 48/Permentan/PK.210/10/2016 Tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan  Populasi Sapi Dan Kerbau Bunting. Peraturan tersebut mengatur tujuan dari UPSUS SIWAB diantaranya mengatur populasi hewan sapi dan kerbau, mengatur organisasi pelaksana dan pendanaannya.  Secara visioner, kegiatan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan asal hewan di Indonesia.

Target dari UPSUS SIWAB sendiri adalah jumlah kelahiran sapi dan kerbau sebanyak 3 juta ekor dengan dana sebesar 1.1 triliun. Target sebesar 3 juta ekor ini diharapkan dapat meningkatkan populasi sapi potong dan secara tidak langsung meningkatkan ketersediaan daging sapi di pasaran. Pencapaian target ini memerlukan faktor pendukung dantaranya adalah ketersediaan SDM pelaksana di lapangan (dokter hewan, paramedic veteriner, instansi pelaksana), kesadaran masyarakat untuk tidak memotong sapi betina yang masih produktif, dan penyiapan manajemen sistem reproduksi sapi dan kerbau yang baik.

Pelaksanaan UPSUS SIWAB di RPH Sapi Kota Pontianak Mulai diterapkan pada tahun 2017 pada Rumah Potong Hewan Sapi Kota Pontianak. Dari semua langkah yang diprogramkan oleh kementrian pertanian, langkah pertama yang dilakukan adalah melarang pemotongan sapi betina produktif. Tim pengawasan terdiri dari pihak kepolisian dan dinas terkait. Diharapkan dengan menurunnya jumlah sapi betina yang dipotong di Wilayah Kota Pontianak, populasi sapi dapat terjaga sehingga terhindar dari kelangkaan.

 

Referensi :

http://www.trobos.com/detail-berita/2017/11/01/68/9473/dr-drh-surya-agus-prihatno-mp-koreksi-untuk-upsus-siwab

Peraturan Menteri Pertanian nomor 48/Permentan/PK.210/10/2016 Tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan  Populasi Sapi Dan Kerbau Bunting, 2016

Prasetyo, T, Maharso, D dan Setiani, C, Tinjauan Tentang Populasi Sapi Potong dan Kontribusinya terhadap Kebutuhan Daging di Jawa Tengah, Sains Peternakan Vol. 8 (1), Maret 2010: 32-39 ISSN 1693-8828, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah, 2010

Operator UPTD RPH Sapi