JURU SEMBELIH, BAGIAN PENTING DARI RPH

04 Mei 2018
JURU SEMBELIH, BAGIAN PENTING DARI RPH

Kegiatan RPH Sapi pada umumnya merupakan kegiatan memasukkan sapi ke RPH, mengistirahatkan, pemeriksaan anter mortem, melakukan penyembelihan sesuai aturan yang berlaku, pemeriksaan post mortem dan pengemasan daging hasil sembelihan menuju alat angkut. Pengistirahatan sapi dilakukan dengan tujuan agar sapi tidak mengalami stress. Daging sapi yang mengalami stress akan mengakibatkan Dark Firm Stress. Dark Firm Stress biasanya dikarenakan meningkatnya Glikogen didalam otot yang menyebabkan kadar asam laktat pada otot berkurang. Sehingga akan menyebabkan daging berwarna gelap dan kaku1.Saat fase istirahat ini, sapi diberikan makanan dan minuman yang diperlukan untuk metabolisme  normal. Sesaat sebelum dilakukan penyembelihan, dilakukan pemeriksaan ante mortem pada hewan sapi yang akan di potong. Pemeriksaan ini diperlukan untuk memastikan tidak ada sapi sakit dan sapi bunting yang akan dipotong. Setelah dilakukan pemeriksaan dan dirasa tidak ada kelainan yang perlu diperhatikan, maka sapi siap dipotong sesuai kaidah islam oleh juru sembelih halal, untuk mendapatkan daging yang aman sehat utuh dan halal. Setelah dilakukan pemotongan, maka daging sapi yang telah di potong-potong dimasukkan kedalam kendaraan angkut.

“ Penyembelihan Harus Dilakukan Dengan Mengalirkan Darah Melalui Pemotongan Saluran Makanan (Mari'), Saluran Pernafasan Atau Tenggorokan (Hulqum), Dan Dua Pembuluh Darah (Wadajain)”

-Ketua MUI Bidang Fatwa, Huzaemah Tanggo-

 

Mengapa juru sembelih diperlukan dalam proses pemotongan halal? Juru sembelih dalam sistem pemotongan halal, diperlukan karena mereka memiliki pengetahuan seputar pemotongan yang sesuai kaidah islam. Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa Huzaemah Tanggo pada Harian Republika tanggal 22 September 2015, Berdasarkan fatwa MUI Nomor 12 tahun 2009 tentang standar sertifikasi penyembelihan halal, terkait teknis pemotongan oleh juru sembelih, penyembelihan harus dilakukan dengan mengalirkan darah melalui pemotongan saluran makanan (mari'), saluran pernafasan atau tenggorokan (hulqum), dan dua pembuluh darah (wadajain)2. Selain itu pemotongan harus dilakukan satu kali. Dampak langsung dan tidak langsung dari kurang cakapnya juru sembelih dapat mengakibatkan hewan tidak mati dengan sempurna. Ketidak sempurnaan contohnya potongan terhadap pembuluh darah yang tidak tepat atau meleset, dan atau sapi disakiti sebelum di potong. Ketidak sempurnaan ini dapat berpengaruh terhadap kualitas daging. Selain itu, dari sisi ke halalan daging, tidak sesuai dengan kaidah halal yang diterapkan.

Respon RPH Sapi Kota Pontianak terhadap kebutuhan juru sembelih halal ini adalah memberikan pelatihan terhadap juru sembelih yang ada di RPH Sapi Kota Pontianak. Pelatihan tersebut bernama pelatihan Juleha atau Pelatihan juru sembelih halal. Pelatihan tersebut diadakan oleh Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Barat, lembaga yang ditunjuk pemerintah untuk  mengadakan sertifikasi halal. Setiap 2 tahun RPH Sapi Kota Pontianak memberi kesempatan kepada juru sembelihyang bekerja di RPH Kota Pontianak untuk mengikuti pelatihan pemotongan halal. Jumlah juru sembelih yang mengikuti pelatihan untuk tahun 2018 ini berjumlah 4 orang dengan menggunakan anggaran APBD Kota Pontianak Tahun 2018. Dengan adanya pelatihan yang diberikan ini, harapan kedepannya Kota Pontianak mampu menghasilkan daging yang memiliki standar halal dengan juru sembelih yang memiliki pengetahuan seputar pemotongan halal. Manfaat jangka panjang adalah, adanya transfer ilmu dari juru sembelih yang mengikuti pelatihan pemotongan halal kepada juru sembelih yang belum mengikuti, sehingga pemotong lainnya dapatmengerti kaidah-kaidah sebelum mengikuti sertifikasi selanjutnya. (

Penulis : Miftahhurrahman, ST

 

Referensi :

  1. http://ilmuveteriner.com/tata-cara-penyembelihan-hewan-yang-baik-dan-benar/

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/15/09/22/nv2ycl346-fatwa-mui-tentang-penyembelihan-hewan-kurban

Operator UPTD RPH Sapi