LIDAH BUAYA PONTIANAK, PROSPEK DAN PELUANG AGRIBISNIS

29 November 2017
LIDAH BUAYA PONTIANAK, PROSPEK DAN PELUANG AGRIBISNIS

Pembangunan pertanian yang berorientasi pada agribisnis dapat diharapkan sebagai sektor unggulan dalam pembangunan wilayah. Agar pembangunan pertanian ini berlangsung efisien dan efektif, maka diperlukan suatu pengembangan kawasan sentra agribisnis sebagai salah satu upaya bagi tercapainya usaha peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat disekitar kawasan.

Agribisnis pada dasarnya mencakup seluruh rantai produksi, pengolahan hasil dan pemasaran, baik yang menunjang hasil pertanian maupun yang ditunjang oleh hasil pertanian. Kegiatan tersebut menjadi tiga sektor besar, yaitu sektor masukan (perbekalan pertanian), sektor produksi dan keluaran. Sektor masukan terdiri atas kegiatan perbekalan pupuk, mesin, peralatan, pestisida, transportasi dan bibit. Sektor produksi terdiri atas kegiatan efisiensi biaya produksi dan penggunaan perbekalan, metode kerja serta penggunaan tenaga kerja. Sektor keluaran terdiri atas kegiatan industri dan penjualan.

            Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelancaran usaha ada dua yaitu faktor alam (pengaruh alam) dan faktor ekonomi (pengaruh ekonomi). Pengaruh ekonomi sangat ditentukan oleh dua hal yaitu tingkat harga yang berlaku di pasar dan tingkat harga dari sarana pertanian yang diperlukan untuk keperluan produksi.

             Tanaman lidah buaya yang mudah tumbuh dengan baik di lahan gambut sekitar khatulistiwa memiliki manfaat dan nilai ekonomi yang cukup tinggi. Penggunaan tanaman lidah buaya dalam industri secara garis besar dapat dibagi menjadi empat jenis industri yaitu :

  1.  Industri pangan, sebagai makanan tambahan (food supplement), produk yang langsung dikonsumsi dan flavour.
  2.  Industri farmasi dan kesehatan, sebagai anti inflasi, anti oksidan, laksatif, anti mikrobial dan molusisidal, anti kanker, imunomodulator dan hepatoprotector. Paten yang telah dilakukan beberapa negara maju antara lain: CART 1000, CARN 750, Polymannoacetate, Aliminase, Alovex dan Carrsyn.
  3. Industri kosmetika, sebagai bahan baku lotion, krem, lipstik, shampo dan kondisioner.
     
  4.  Industri pertanian, sebagai pupuk, suplemen hidroponik, suplemen untuk media kultur jaringan dan penambah nutrisi pakan ternak.

Penggunaan tanaman lidah buaya yang cukup besar di dalam industri dikarenakan komponen-komponen yang dimilikinya cukup lengkap dan bermanfaat. Komponen tersebut terdapat dalam cairan bening seperti jeli dan cairan yang berwarna kekuningan. Besarnya peluang penggunaan tanaman lidah buaya dalam industri tersebut, sehingga tanaman lidah buaya ditetapkan  sebagai produk unggulan Kota Pontianak.  Pengolahan Lidah buaya di bidang agroindustri diantaranya dengan membuat  aneka makanan dan minuman seperti coklat, manisan, biskuit, kerupuk, stick, selai, teh lidah buaya, serbat, tepung lidah buaya, juice lidah buaya dan nata de aloevera.  Sementara sebagai pencinta tanaman hias, lidah buaya dapat dijadikan tanaman hias maupun pelengkap dari koleksi tanaman hias yang sudah ada. Berdasarkan ragam  manfaat tersebut, lidah buaya dapat dijadikan sebagai lahan bisnis yang dapat dikelola, tidak saja dalam skala rumah tangga tetapi juga  dalam industri kecil, menengah maupun besar. 

Tanaman lidah buaya yang berasal dari Pontianak (Aloe chinensis) merupakan varietas yang memiliki keunggulan produksi. Tanaman ini setiap pelepahnya memiliki berat sekitar 0,8 – 1,2 kg dan dapat dipanen dua kali dalam sebulan sejak bulan ke 10 -12 setelah penanaman hingga tahun kelima. Mutu panen setiap pelepah sebagian besar tergolong mutu A yaitu tanpa cacat atau serangan hama penyakit daun.

Saat ini permintaan lidah buaya Pontianak dalam bentuk pelepah segar berasal dari Jakarta. Umumnya pedagang di Jakarta mengirimkan lagi ke Taiwan dan Jepang mengingat dari Kota Pontianak tidak ada jalur pelayaran langsung ke negara-negara tersebut. 

           .

Produsen dalam skala industri yang telah mengolah pelepah lidah buaya menjadi makanan adalah PT. Niramas dengan merk dagang Inaco dan PT. Keong Nusantara Abadi yang menggunakan merk Wong Coco, sedangkan eksportir pelepah segar yang tercatat diantaranya adalah PT. Sumber Aloe Vera. Industri kecil pengolahan lidah buaya di Kota Pontianak sampai dengan tahun 2017 berjumlah 23 industri kecil/rumah tangga.

 

 

Pembangunan industri pengolahan lidah buaya merupakan langkah strategis dalam upaya memberikan multiplier effect baik dari aspek ekonomi, peningkatan lapangan pekerjaan, kesejahteraan masyarakat berupa peningkatan PDRB maupun peningkatan PAD dalam upaya percepatan pembangunan. Pembangunan industri pengolahan lidah buaya tersebut memerlukan sarana dan prasarana yang memadai, berkualitas dan berstandar agar produk yang dihasilkan dapat diterima di pasar global.

Potensi tanaman dan produksi lidah buaya di Kota Pontianak sangat menjanjikan baik dari segi pertumbuhan (ukuran tanaman yang terbaik saat ini) maupun dari segi kandungan gizinya.  Luas areal saat ini sekitar 80 hektar dengan produksi sebanyak 9.820 ton. Sedangkan perkembangannya tanaman Lidah Buaya Kota Pontianak Tahun 2007-2016 ditampilkan pada tabel 2 berikut ini.

 

Tabel. 1

     Perkembangan Luas Areal dan Produksi Lidah Buaya Tahun 2007  - 2016

 

Tahun

Luas Areal (Ha)

Produksi (Ton)

 

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

 

 

70

67

44

37

46

79

84

84

84

80

 

 

2.458

5.530

5.284

4.546

5.652

6.359

7.879

8.294

10.072

9.820

 

Sumber  : Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak, 2017.

Kota Pontianak berpotensi cukup baik untuk pengembangan budidaya tanaman lidah buaya. Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Pontianak Nomor : 299 tanggal 15 Agustus tahun 2001 tentang Kawasan Sentra Agribisnis Kota Pontianak yaitu :

  1. Ditetapkan lokasi di kelurahan Siantan Hilir, Siantan Tengah dan Siantan Hulu Kecamatan Pontianak Utara seluas 800 hektar sebagai kawasan Sentra Agribisnis Kota Pontianak.

 

 

  1. Kawasan sentra Agribisnis dapat dimanfaatkan untuk kegiatan utama dan penunjang agribisnis di sektor pertanian dalam arti luas, penelitian dan atau kajian potensi sumberdaya lahan serta kegiatan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup.
  2. Pengelolaan dan pemanfaatan kawasan sentra Agribisnis dibawah koordinasi pemerintah Kota Pontianak
  3. Pemanfaatan tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan hidup terutama pada daerah-daerah yang masuk dalam kawasan pelestarian alam.

Dalam rencana pengembangannya, Kawasan Sentra Agribisnis Kota Pontianak dibagi menjadi 7 (tujuh) bagian  (Hasil Rekomendasi Pengembangan pada penyusunan RDTR Kawasan Sentra Agribisnis Kota Pontianak Tahun Anggaran 2002 dan Penyusunan RPJM Kawasan Sentra Agribisnis kota Pontianak tahun Anggaran 2003) yang diantaranya merekomendasikan kawasan Tanaman Lidah Buaya, pepaya dan jagung seluas 674,70 hektar.

  Perkembangan pengembangan sektor pangan di Kota Pontianak lebih dititik beratkan pada pengembangan diversifikasi produk yang mempunyai nilai ekonomis strategis dengan memanfaatkan keunggulan kompetitif komoditas unggulan daerah. Pengembangan kawasan sentra agribisnis dilakukan dengan cara menggali lebih dalam potensi yang dimiliki kawasan, mendorong pemanfaatan sumberdaya pertanian dan pengembangan infrastruktur penunjang kawasan secara optimal.

Faktor pendukung dalam rangka percepatan pembangunan pertanian adalah perkembangan teknologi  yang diharapkan agar mampu :

  1. Meningkatkan produksi lidah Buaya segar maupun olahan
  2. Memperbaiki kualitas produksi  segar Lidah Buaya
  3. Perbaikan penanganan pasca panen
  4. Pengemasan
  5. Peningkatan kualitas dan diversifikasi hasil olahan

 

 

Kelembagaan yang mendukung hal tersebut telah berdiri UPTD Agribisnis.  Selain sebagai wahana untuk pusat pengembangan komoditas unggulan di Kota Pontianak, juga merupakan jendela informasi tentang segala hal yang berkaitan dengan komoditas unggulan tersebut, sehingga dapat berfungsi sebagai Bank of Technology. Kegiatan ini lebih diarahkan dalam bentuk pembangunan fisik serta fasilitas pusat pengkajian tersebut. Beberapa teknologi yang telah dikembangkan yaitu kultur jaringan, aloe powder, produk olahan (juice lidah buaya) dan teknologi budidaya lidah buaya. Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Pontianak Nomor 710 tahun 2012 tentang Penetapan Produk Unggulan Daerah Kota Pontianak Tahun 2012 ditetapkan tanaman lidah buaya dan produk olahannya sebagai produk unggulan Kota Pontianak.

Fungsi UPTD Agribisnis khususnya dalam agribisnis lidah buaya adalah  sebagai berikut :

  1. Pusat pengkajian penerapan dan pengembangan teknologi produksi bibit, budidaya, proses dan tekno-ekonomi agroindustri lidah buaya.
  2. Wahana bagi ilmuwan dari berbagai instansi, lembaga, praktisi dan swasta serta pengambil kebijakan untuk secara sinergis menghasilkan teknologi terapan yang layak dan dapat meningkatkan nilai tambah produk lidah buaya.
  3. Sebagai pusat pelatihan dan kerja praktek (magang).
  4. Sumber informasi teknologi dan agribisnis lidah buaya.
  5. Promosi investasi agribisnis dan agrowisata lidah buaya.
  6. Sebagai model sistem pertanian terpadu.

Pembangunan industri pengolahan lidah buaya merupakan langkah strategis dalam upaya memberikan multiplier effect baik dari aspek ekonomi, peningkatan lapangan pekerjaan, kesejahteraan masyarakat berupa peningkatan PDRB maupun peningkatan PAD dalam upaya percepatan pembangunan.

Pembangunan industri pengolahan lidah buaya tersebut memerlukan sarana dan prasarana yang memadai, berkualitas dan berstandar agar produk yang dihasilkan dapat diterima di pasar global.

 

OLEH : UTARI ISMAWATI, SP

Op. UPTD Agribisnis