MENINGKATKAN DAYA SAING FLORIKULTURA MENYONGSONG MEA

12 Oktober 2015
MENINGKATKAN DAYA SAING FLORIKULTURA MENYONGSONG MEA

          Oleh : Utari Ismawati, SP

         Tanaman florikultura merupakan suatu kelompok jenis tanaman hortikultura yang bagian atau keseluruhannya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan keindahan, keasrian dan kenyamanan di dalam ruang tertutup dan/atau terbuka. Budidaya tanaman florikulktura adalah semua kegiatan pratanam, penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan pasca panen florikultura.

        Tanaman florikultura merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan memiliki prospek yang sangat cerah sebagai komoditas unggulan ekspor maupun untuk pemasaran dalam negeri. Pada era perdagangan global, tidak lagi mengandalkan hambatan tarif tetapi lebih menekankan pada hambatan teknis berupa persyaratan mutu, sanitary dan phytosanitary. Kondisi ini menuntut produsen meningkatkan daya saing produknya termasuk tanaman florikultura.

      Sesungguhnya pelaku utama/pelaku usaha tanaman florokultura akan memperoleh banyak manfaat dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang genderang pembuka gerbang hanya tinggal beberapa bulan lagi, bila mereka siap bersaing dengan menghasilkan produk-produk yang bermutu tinggi dan harga yang kompetitif. Namun bila tidak, maka kita akan menjadi pasar prospektif dari negara lain.

        Menghadapi tuntutan dalam persaingan global, maka menghasilkan produk florikultura bermutu yang diproduksi secara ramah lingkungan merupakan suatu yang mesti dipenuhi agar produk florikultura yang dihasilkan dapat bersaing di pasar. Berkaitan dengan pelaksanaan budidaya florikultura yang baik, Kementerian Pertanian telah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/OT.140/5/2013 tentang Pedoman Budidaya Florikultura Yang Baik. Dalam Permentan tersebut disebutkan bahwa tujuan dari penerapan pedoman budidaya florikultura yang baik  adalah untuk (i) meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman, (ii) meningkatkan mutu produk dan efisiensi tanaman florikultura, (iii) menjamin pelestarian, kesuburan lahan, penggunaan sumber daya dan sistem produksi yang berkelanjutan/ramah lingkungan, (iv) menjamin kesehatan dan keselamatan pekerja, (v) menjamin keamanan konsumen, (vi) meningkatkan daya saing dan peluang penerimaan oleh pasar internasional maupun domestik, dan (vii) meningkatkan kesejahteraan petani.

         Adapun yang menjadi ruang lingkup pedoman budidaya florikuktura yang baik meliputi : ((i) kriteria, (ii) registrasi dan sertifikasi, (iii) dasar-dasar usaha tani (lahan, kelestarian lingkungan, tenaga kerja, (iv) dasar-dasar budidaya (lahan, penggunaan benih/varietas, penanaman, pemupukan, perlindungan tanaman, pengairan, pengawasan, pencatatan dan penelusuran balik), (v) tanaman hias dan bunga, (vi) alat dan mesin pertanian, (vii) pengaduan, (viii) pencatatan, dan (ix) evaluasi internal.

        Dalam meningkatkan daya saing produk florikukultura maka kualitas sumberdaya manusia petani sebagai pelaku utama dan pelaku usaha berpengaruh terhadap kekuatan daya saing produk baik dalam negeri maupun pasar global. Salah satu kunci meningkatkan daya saing adalah mendorong laju inovasi agar bisa bersaing. Inovasi untuk menghasilkan produk sesuai tuntutan konsumen meliputi (i) memperkenalkan produk baru atau peningkatan kualitas produk yang sudah ada, (ii) memperkenalkan proses baru ke industri, (iii) membuka pasar baru, (iv) mengembangkan sumber pasokan baru pada bahan baku.

        Peningkatan daya saing produk florikultura sangat tergantung kepada petani sebagai pelaku utama dalam menghadapi tuntutan konsumen saat ini. Untuk itu petani harus memiliki keahlian menerapkan proses budidaya, penanganan pasca panen, dan pengolahan yang baik dan benar. Beberapa hal yang perlu dicermati pelaku utama dan pelaku usaha florikultura di Kota Pontianak untuk meningkatkan daya saing produk adalah (i) regitsrasi lahan, (ii) memahami kaidah Good Agricultural Practicse (GAP), (iii) adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya spesifik tanaman dan spesifik lokasi sesuai kaidah GAP, (iv) memahami kaidah pengendalian hama terpadu (PHT) untuk menghasilkan produk yang aman, bermutu, ramah lingkungan dan berdaya saing, (v) memiliki buku catatan usaha tani yang sedang dilakukan, (vi) penerapan pasca panen yang baik (Good Handling Prantices/GHP), serta penerapan pengolahan yang baik (Good Manufacturing Practices/GMC).

 

Op. UPTD Agribisnis