Flu Burung atau Avian Influenza dan Perkembangannya

05 Juni 2015
Flu Burung atau Avian Influenza dan Perkembangannya

(Oleh: drh. Sofia Febriyanita)

Flu Burung merupakan satu di antara 25 penyakit hewan menular strategis yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 4026/Kpts/OT.140/4/2013. Penetapan ini berdasarkan bahwa penyakit tersebut menyebabkan kerugian ekonomi, mempengaruhi kesehatan manusia dan lingkungan dan keresahan masyarakat, kematian hewan yang tinggi, dan/atau potensi masuk dan menyebarnya penyakit hewan, sehingga perlu dilakukan pengendalian dan penanggulangan.

Flu  burung  (FB)  pada  unggas  akibat Highly  Patogenic  Avian  Influenza strain H5N1 clade 2.1 pertama kali dilaporkan pada tahun 2003 dan sampai dengan saat ini telah menyebar di seluruh provinsi kecuali Maluku Utara. Kejadian FB pada  manusia  pertama  kali  dilaporkan  pada  tahun 2005 akibat  virus  yang sama  pada  unggas.  Evaluasi  dari  tahun  2003  sampai  dengan  2012 terjadi kecenderungan  penurunan  kejadian  FB  baik  pada  unggas  maupun  manusia. Analisa  epidemiologi  berdasarkan  waktu  diketahui  peningkatan  kejadian  FB pada unggas dan manusia terjadi antara Desember sampai dengan April atau dapat juga disimpulkan meningkat di saat musim penghujan (Komnas Zoonosis).

Flu Burung atau Avian Influenza (AI) adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan virus Influenza tipe A. Virus ini memiliki sub-tipe yang dibagi berdasarkan permukaannya yaitu Hemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA), yang terbagi menjadi 16 sub-tipe H dan 9 sub-tipe N. Sifat Virus avian influenza adalah dapat meng-hemaglutinasi sel darah merah unggas. Virus Influenza ini dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 220C dan lebih dari 30 hari pada suhu 00C. Di dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas yang sakit dapat bertahan lebih lama. Namun, virus ini sensitif terhadap panas pada suhu 560C selama 3 jam atau 600C selama 30 menit, serta suasana asam pada pH 3. Virus influenza H5N1 pada awalnya diperkirakan menyebar melalui burung-burung liar yang secara periodik melakukan migrasi pada setiap perubahan musim. Virus kemudian menular ke peternakan unggas (Nazaruddin., 2008). Virus AI dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok yaitu bentuk akut yang disebut dengan Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) dan yang bentuk ringan disebut Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI). Virus pada unggas yang mempunyai subtipe H5 atau H7 telah diketahui mempunyai hubungan yang erat dengan penyakit yang bersifat patogenik, sebaliknya banyak juga virus influenza A subtipe H5 atau H7 yang bersifat tidak patogen (Tabbu, 2000). 

Di alam, yang bertindak sebagai reservoir utama virus AI adalah unggas air antara lain itik liar, dalam tubuhnya ditemukan semua subtipe yang ada dan dapat bersembunyi pada saluran pernapasan dan saluran pencernaan dan menyebar ke unggas lain melalui inhalasi. Penularan avian influenza dapat terjadi melalui kontak langsung antara ayam sakit dengan ayam yang peka. Ayam yang terinfeksi mengeluarkan virus dari saluran pernapasan konjungtiva dan feses. Selain itu penularan juga dapat terjadi secara tidak langsung, misalnya melalui udara yang tercemar oleh material/debu yang mengandung virus influenza, makanan/minuman, alat/perlengkapan peternakan, kandang, pakaian, kendaraan, peti telur, nampan telur, burung dan mamalia yang tercemar virus influenza Lalat juga mempunyai peranan dalam menyebarkan virus AI. Tinja yang mengandung virus avian influenza dalam 1 gram dapat menginfeksi ayam sebanyak satu juta ekor (Nazaruddin, 2008).   Avian influenza tidak dapat diobati, pemberian antibiotik/antibakteri hanya untuk mengobati infeksi sekunder oleh bakteri atau Mycoplasma. Pengobatan suportif dengan multivitamin perlu juga dilakukan untuk proses rehabilitasi jaringan yang rusak (Tabbu., 2000).

Sejak terjadinya wabah AI pada unggas di Indonesia yang dideklarasi pada bulan Januari 2004, kasus secara bertahap menurun cukup signifikan setiap tahun yakni tahun 2007 sebanyak  2.751 kasus, tahun. 2008 sebanyak 1.413 kasus,tahun 2009 sebanyak 2293 kasus, tahun 2010 sebanyak 1502 kasus, tahun 2011 sebanyak 1.411 kasus, tahun 2012 sebanyak 546 kasus, tahun 2013 sebanyak 470 kasus, tahun 2014 sebanyak 346 kasus  dan tahun 2015 sebanyak 41 kasus (keswan.ditjennak.pertanian.go.id). Namun perkembangan terbaru meninggalnya 2 orang warga di Tangerang pada bulan Maret 2015 mengingatkan kita untuk terus waspada terhadap virus ini.

Perkembangan situasi terkini AI Highly Pathogenic Avian Influenza masih banyak terjadi di dunia terutama Afrika Utara dan bagian timur Asia. Negara yang paling menderita adalah Cina karena mengalami banyak wabah yang disebabkan oleh beberapa strain virus HPAI (H5N1, H7N9, H5N6 dan H5N8) dengan penyebaran yang semakin luas dan memakan juga korban manusia yang bertambah selalu. Strain H7N9, H5N6 dan H5N8 tidak dijumpai di Indonesia, dibuktikan dengan tidak ada hasil positif pada surveilans terhadap strain-strain tersebut. Secara global jumlah kasus pada unggas dan manusia sejak tahun 2004 sampai Januari 2015 sudah sangat berkurang, tetapi sejak Desember 2014 sampai sekarang ada peningkatan kasus di Mesir: 352 kasus pada unggas dan 101 kasus manusia (dengan kematian 31).

Pemerintah Republik Indonesia melakukan pemantauan (surveilans) reguler terhadap perubahan-perubahan antigenik dan genetik virus HPAI H5N1 yang bersirkulasi di Indonesia secara pasif (PDSR) dan aktif (di pasar unggas hidup). Pengamatan selama ini menunjukkan pengaruh musim terhadap jumlah kejadian penyakit di lapangan sehingga terjadi fluktuasi dengan peningkatan kasus pada musim hujan dan penurunan pada musim kemarau, akan tetapi secara umum terjadi penurunan jumlah kasus AI dan sampel positif setiap tahunnya sejak tahun 2009 sampai saat ini sebagai faedah penggunaan vaksin lokal pada unggas. Hal ini membuktikan bahwa penggunaaan vaksin lokal efektif dalam melindungi unggas dari penyakit Avian Influenza. Clade Virus H5N1 yang dominan bersirkulasi di Indonesia adalah 2.1.3.2 yang masuk pertama kali tahun 2003 dan clade 2.3.2.1 yang masuk pertama kali tahun 2012.

Berdasarkan analisa berbagai kajian yang telah dilakukan disimpulkan bahwa transmisi/penyebaran virus AI terjadi mengikuti mata rantai pemasaran unggas. Munculnya letupan-letupan kasus baru (sporadis) umumnya dimulai dari kasus AI di peternakan unggas komersial, kemudian menyebar ke peternakan atau ke wilayah lainnya melalui unggas sakit yang diperdagangkan atau dilalu-lintaskan. Guna mencegah atau meminimalisir risiko kejadian kasus AI dan penyebarannya, maka tindakan pengendalian AI sangat diperlukan dengan pencegahan dan pengendalian pada peternakan dan memutus mata rantai penyebaran virus AI.

Indonesia telah menetapkan penerapan strategi vaksinasi AI sejak tahun 2004 guna menurunkan prevalensi AI dan melindungi unggas dari serangan infeksi AI dengan menggunakan vaksin. Selain itu vaksinasi juga akan berhasil dengan dukungan penerapan Biosekuriti yang ketat. Untuk itu telah disosialisasikan model Biosekuriti 3 Zona (Merah, Kuning dan Hijau) yang merupakan percontohan penerapan Biosekuriti pada peternakan unggas komersial skala kecil dan menengah secara mudah, murah, praktis dan efektif.

Sebagai upaya pencegahan dan untuk meminimalkan risiko terjadinya penularan virus AI dari unggas ke manusia, disampaikan himbauan kepada masyarakat sebagai berikut : Bila memelihara unggas kesayangan, maka harus dipelihara dalam sangkar atau dalam pagar tertutup. Pakan unggas harus disediakan cukup, kebersihan unggas dijaga dengan baik. Sewaktu menangani unggas harus menggunakan minimal penutup hidung (masker) dan sesudahnya mencuci tangan dengan sabun. Tidak memelihara unggas produksi (ayam, itik, entok, angsa dll) dengan cara diumbar, terutama di lingkungan padat pemukiman. Masyarakat tidak perlu panik atau kekhawatiran yang berlebihan terhadap ancaman tertular Flu Burung dari unggas dan produk unggas. Namun harus tetap meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap kemungkinan risiko tertularnya flu burung. Aman mengkonsumsi daging dan telur unggas, sepanjang telah dimasak dengan matang. Aman memelihara ternak unggas produksi atau unggas kesayangan, agar selalu menggunakan alat pelindung diri, minimal masker sewaktu menangani unggas hidup/sakit/mati dan segera cuci tangan dengan sabun. Segera melapor kepada petugas kesehatan hewan terdekat bila mengetahui ada unggas sakit atau mati mendadak (keswan.ditjennak).

Sumber :

http://keswan.ditjennak.pertanian.go.id/index.php/blog/read/berita/perkembangan-kasus-avian-influenza-ai-pada-unggas-kondisi-sd-31-maret-2015.

http://komnaszoonosis.go.id/berita/perkembangan-zoonosis/flu-burung.

Nazaruddin., W. 2008.  Avian Influenza Pada Unggashttp://www.vet-klinik.com/Perunggasan/Avian-Influenza-Pada-Unggas.html. Diakses Pada Tanggal; 2/12/2011 5:43:52 

Seminar Situasi Terkini HPAI dan Tindakan Pengendaliannya. Bandar Lampung, 7 April 2015.

Tabbu., C.R. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya. Volume I. Kanisius. Yogyakarta. Hal. 232-243.

Operator 3