Bersahabat dengan Lingkungan Melalui Pertanian Berkelanjutan

07 April 2015
Bersahabat dengan Lingkungan Melalui Pertanian Berkelanjutan

(Oleh: Utri Dianniar)

Pendahuluan

Sistem pertanian di berbagai belahan dunia telah mengalami evolusi sepanjang abad sebagai dampak kemajuan teknologi dan meningkatnya pengetahuan manusia. Diawali dengan kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan sistem pertanian berkembang menjadi pertanian primitif, pertanian tradisional, hingga ke pertanian modern.

Pertanian tradisional ditandai sejak manusia mulai menetap dan berladang pada satu lokasi. Sistem pertanian ini merupakan model pertanian yang masih sangat sederhana yang sifatnya ekstensif dan tidak memaksimalkan penggunaan input seperti teknologi, pupuk kimia dan pestisida. Hasil pertanian yang diperoleh sangat tergantung pada kesuburan tanah, ketersediaan air, iklim dan topografi.  Karena ketergantungannya yang sangat tinggi terhadap alam, pertanian tradisional bersifat tak menentu sehingga produksinya tidak mampu mengimbangi kebutuhan pangan penduduk yang jumlahnya terus meningkat. Kondisi ini mendorong berkembangnya pertanian konvensional atau yang lebih dikenal dengan sistem pertanian modern.

Sistem pertanian konvensional merupakan sistem pertanian intensif yang menitikberatkan pada salah satu jenis tanaman tertentu dengan memanfaatkan inovasi teknologi dan penggunaan input luar yang tinggi untuk memperoleh output yang lebih tinggi dalam waktu yang relatif singkat. Sistem ini mengintensifkan penggunaan modal dan memperhatikan efisiensi ekonomi dengan cara meminimumkan biaya untuk mendapatkan keuntungan tertentu (Tandisau dan Herniwati, 2009).

Strategi untuk memodernisasi sektor pertanian dari pertanian tradisional menuju pertanian berbasis teknologi maju/modern dikenal dengan istilah “Revolusi Hijau”. Revolusi hijau bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian melalui penelitian dan pengembangan teknologi pertanian guna menghasilkan varietas unggul. Ini dilakukan sebagai upaya menjawab tantangan kerawanan pangan akibat pertambahan jumlah penduduk yang semakin pesat.

Pertanian modern (revolusi hijau) diakui telah membawa kemajuan pesat bagi pembangunan pertanian. Sistem ini telah berhasil merubah wajah pertanian dunia, tak terkecuali Indonesia. Dalam beberapa dekade terakhir telah terjadi peningkatan produksi pertanian yang cukup signifikan sebagai hasil dari revolusi hijau. Di Indonesia sendiri, fenomena revolusi hijau mulai diterapkan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, dimana pada saat itu Indonesia berhasil mencapai swasembada beras.

 

Mengapa Harus Pertanian Berkelanjutan?

Dibalik kesuksesannya, tidak dapat dipungkiri ternyata revolusi hijau juga membawa dampak negatif bagi lingkungan. Maraknya penggunaan pupuk anorganik, pestisida, herbisida dan intensifnya eksploitasi lahan dalam jangka panjang membawa konsekuensi berupa kerusakan lingkungan, mulai dari tanah, air, udara maupun makhluk hidup. Penggunaan bahan-bahan kimia sintetis tersebut berimplikasi pada rusaknya struktur tanah dan musnahnya mikroba tanah sehingga dari hari ke hari lahan pertanian kita menjadi semakin kritis (Bendang, SPI).  Praktek-praktek pertanian modern yang dilakukan dengan tidak bijak mengakibatkan pencemaran lingkungan, keracunan, panyakit dan kematian pada makhluk hidup, yang selanjutnya dapat menimbulkan bencana dan malapetaka (Tandisau dan Herniwati, 2009).

Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kelestarian lingkungan, revolusi hijau mendapat kritikan dari berbagai kalangan. Tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan akibat penggunaan teknologi yang tidak memandang kaidah-kaidah yang telah ditetapkan, revolusi hijau juga menciptakan ketidakadilan ekonomi dan ketimpangan sosial. Ketidakadilan ekonomi muncul karena adanya praktek monopoli dalam penyediaan sarana produksi pertanian, sementara ketimpangan sosial terjadi diantara petani dan komunitas di luar petani (Sahiri N, 2003).

Adanya dinamika tersebut mendorong munculnya gagasan untuk mengembangkan suatu sistem pertanian yang dapat bertahan hingga ke generasi berikutnya dan tidak merusak alam. Dalam dua dekade terakhir telah berkembang konsep pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) yang merupakan implementasi dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan pertanian berkelanjutan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani secara luas melalui peningkatan produksi pertanian yang dilakukan secara seimbang dengan memperhatikan daya dukung ekosistem sehingga keberlanjutan produksi dapat terus dipertahankan dalam jangka panjang dengan meminimalkan terjadinya kerusakan lingkungan (Fadlina dkk, 2013: 44). 

 

Apakah Perbedaan antara Pertanian Konvensional dan Pertanian Berkelanjutan?

Tabel berikut menyajikan secara garis besar perbedaan antara pertanian konvensional/modern dengan pertanian berkelanjutan:

Pertanian Konvensional/Modern Pertanian Berkelanjutan
Sangat tergantung pada kemajuan inovasi teknologi Sangat tergantung pada manajemen, pengetehauan serta keterampilan petani
Membutuhkan investasi modal yang besar untuk produksi dan pengembangan teknologi Pada umumnya tidak membutuhkan investasi modal yang besar
Skala pertanian yang cukup luas/besar Skala pertanian kecil dan menengah
Sistem tanam: monokultur Sistem tanam: diversifikasi
Penggunaan pupuk dan pestisida kimiawi secara luas Meminimalisir penggunaan pupuk dan pestisida kimiawi, mengalihkannya dengan pupuk dan pestisida alami
Biaya yang dikeluarkan untuk upah tenaga kerja relatif rendah karena hanya dibutuhkan sedikit tenaga kerja Biaya upah tenaga kerja lebih tinggi karena dibutuhkan lebih banyak tenaga kerja
Ketergantungan yang tinggi pada penggunaan bahan bakar untuk sumber energi pada produksi pertanian, produksi pupuk, pengepakan, transportasi, dan pemasaran Penggunaan bahan bakar fosil dalam proses produksi relatif lebih rendah karena minim penggunaan mesin pertanian, tidak memproduksi pupuk kimiawi, dan dalam pemasarannya pun lebih menekankan pada pemasaran secara langsung dan bersifat lokal (areal pertanian dekat dengan konsumen sehingga jalur distribusi lebih pendek dibandingkan dengan sistem pertanian konvensional)

 

Berbagai penelitian mengenai pertanian berkelanjutan telah banyak dilakukan, diantaranya menunjukkan bukti bahwa pertanian berkelanjutan mampu meningkatkan produktivitas lebih tinggi  daripada pertanian konvensional. Studi terhadap 286 proyek pertanian berkelanjutan di 57 negara berkembang di Afrika, Asia dan Amerika antara tahun 1999 dan 2000 menunjukkan terjadinya kenaikan hasil rata-rata hingga 79%. Proyek-proyek tersebut menerapkan teknik penggunaan air yang lebih efisien, peningkatan jumlah bahan organik dalam tanah serta pemerangkapan karbon, dan pengendalian hama, gulma dan penyakit tanaman dengan teknik pengelolaan hama terpadu. Pada tahun tersebut, tercatat 12,6 juta petani telah mengadopsi praktek pertanian berkelanjutan dengan luas areal pertanian berkisar 37 juta hektar atau setara dengan 3% dari luas lahan yang dapat ditanami di Afrika, Asia dan Amerika Latin (Rukmana, 2012).

Studi yang dilakukan Rodale Institute pada tahun 2011 menunjukkan keunggulan pertanian organik, yang merupakan contoh dari pertanian berkelanjutan,  dibandingkan dengan pertanian konvensional. Keunggulan tersebut yakni performa yang lebih baik pada musim kamarau dan menghemat 45% penggunaan energi daripada pertanian konvensional. Pertanian konvensional menghasilkan 40% lebih banyak emisi gas rumah kaca yang dapat memperparah pemanasan global. Rodale Institute lebih lanjut lagi menemukan fakta bahwa pertanian organik tiga kali lebih menguntungkan dibandingkan dengan pertanian konvensional. Data selama periode 2008-2010 menunjukkan keuntungan yang diperoleh pertanian organik mencapai $ 1.395/hektar setiap tahunnya, sementara pertanian konvensional hanya memperoleh $ 475/hektar/tahun. Iowa State University juga melakukan kajian yang serupa dan mengungkap keuntungan yang diperoleh pertanian organik untuk setiap tahunnya mencapai $ 500/hektar lebih besar dari pertanian konvensional. Hal ini disebabkan rendahnya biaya produksi pertanian organik karena tidak memerlukan biaya untuk pembelian pestisida dan pupuk sintetis dengan harga yang cukup mahal, serta harga tanaman organik yang relatif lebih tinggi di pasaran (Maquito, 2012).

 

Bagaimana Suatu Sistem Pertanian Dikatakan Berkelanjutan?

Untuk dapat dikatakan berkelanjutan, suatu sistem pertanian harus memenuhi prinsip dasar yang secara umum merupakan adopsi dari prinsip dasar pembangunan berkelanjutan (Rukmana, 2012). Tiga prinsip dasar sistem pertanian berkelanjutan meliputi:

1. Keberlanjutan Ekonomi

Keberlanjutan secara ekonomi dimaksudkan sebagai pembangunan yang mampu menghasilkan barang dan jasa secara kontinu untuk memelihara keberlanjutan pemerintahan dan menghindari ketidakseimbangan sektoral yang dapat merusak produksi pertanian dan industri (Fauzi, 2004). Pertanian berkelanjutan dapat dilakukan melalui peningkatan pengelolaan tanah dan rotasi tanaman dengan tetap menjaga kualitas tanah dan ketersediaan air sehingga peningkatan produksi pertanian dapat terus dipertahankan hingga jangka panjang.

2. Keberlanjutan Ekologi/Lingkungan

Sistem yang berkelanjutan secara ekologi/lingkungan merupakan usaha untuk memanfaatkan dan mengelola sumberdaya alam secara bijaksana dengan tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan berlaku adil bagi generasi mendatang (Keraf, 2002). Pertanian berkelanjutan dapat dicapai dengan melidungi, mendaur ulang, mengganti dan/atau mempertahankan basis sumberdaya alam seperti tanah, air, dan keanekaragaman hayati yang memberikan sumbangan bagi perlindungan modal alami.

3. Keberlanjutan Sosial

Keberlanjutan sosial diartikan sebagai sistem yang mampu mencapai keadilan dan kesetaraan akses terhadap sumberdaya alam dan pelayanan publik baik dalam bidang kesehatan, gender, maupun akuntabilitas politik (Fauzi, 2004). Dalam pertanian berkelanjutan, keberlanjutan sosial berkaitan dengan kualitas hidup dan kesejahteraan dari mereka yang terlibat dalam sektor ini. Pertanian berkelanjutan memberikan solusi bagi permasalahan pengangguran karena sistem ini mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak bila dibandingkan dengan sistem pertanian konvensional yang lebih mengedepankan penggunaan mesin dan alat-alat berat.

 

Kegiatan Apa yang dapat Menunjang Pertanian Berkelanjutan?

Salah satu contoh penerapan pertanian berkelanjutan adalah sistem pertanian organik. Pertanian organik adalah metode produksi tanaman yang berfokus pada perlindungan lingkungan. Metode ini menghindari penggunaan input kimia, seperti pupuk dan pestisida (Abando dan Rohnerthielen, 2007 dalam Theocharopoulos et al., 2012). Teknik-teknik yang digunakan dalam pertanian organik merupakan pendekatan dari sistem pertanian berkelanjutan yang menekankan pada pelestarian dan konservasi sumber daya alam guna terciptanya keseimbangan ekosistem dan memberikan kontribusi bagi peningkatan produktivitas pertanian dalam jangka panjang. Kegiatan-kegiatan yang menunjang pertanian berkelanjutan diantaranya adalah sebagai berikut (Sudirja, 2008):

1. Pengendalian Hama Terpadu

Pengendalian hama tanaman dapat dilakukan dengan cara yang lebih bijak dan ramah lingkungan dengan mengesampingkan penggunaan pestisida kimiawi melalui metode Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT merupakan pengendalian hama yang dilakukan dengan menggunakan unsur-unsur alami yang mampu mengendalikan hama agar tetap berada pada jumlah di bawah ambang batas yang merugikan (Juanda dan Cahyono, 2005) dengan cara-cara yang aman bagi lingkungan dan makhluk hidup (Endah dan Abidin, 2002). Beberapa cara pengendalian hama terpadu yakni:

  • menggunakan serangga atau binatang-binatang yang dikenal sebagai musuh alami hama seperti Tricogama sp. yang merupakan musuh alami dari parasit telur dan parasit larva hama tanaman,
  • menggunakan tanaman penangkap hama untuk menjauhkan hama dari tanaman utama,
  • melakukan rotasi tanaman untuk mencegah terakumulasinya pathogen dan hama yang sering menyerang satu spesies saja.

2. Konservasi Tanah

Konservasi tanah dapat diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan dan dapat berfungsi secara berkelanjutan (Arsyad, 2006). Kegiatan konservasi tanah diantaranya dengan membuat sengkedan atau terasering pada lahan miring untuk mencegah terjadinya erosi, melakukan reboisasi atau penanaman kembali lahan kritis, melakukan pergiliran tanaman atau crop rotation dan menanam tanaman penutup tanah (cover crop).

3. Menjaga Kualitas Air

Menjaga dan melindungi sumberdaya air untuk tetap mempertahankan kualitasnya pada kondisi alamiahnya merupakan hal mutlak dalam pertanian.  Penurunan kualitas air akan menurunkan daya guna, produktivitas dan daya tampung dari sumberdaya air yang pada akhirnya akan menurunkan kekayaan sumberdaya air. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas air antara lain: mengurangi penggunaan senyawa kimia sintetis ke dalam tanah yang dapat mencemari air tanah, menggunakan irigasi tetes yang menghemat penggunaan air dan pupuk, melakukan penanaman, pemeliharaan dan kegiatan konservasi tanah pada kawasan lahan kritis terutama di hulu daerah aliran sungai.

4. Tanaman Pelindung

Penanaman tanaman pelindug seperti gandum dan semanggi di akhir musim panen tanaman sayuran atau sereal bermanfaat untuk menekan pertumbuhan gulma, mencegah erosi dan meningkatkan nutrisi dan kualitas tanah.

5. Diversifikasi Tanaman

Diversifikasi tanaman merupakan teknik menanam/memelihara lebih dari satu jenis tanaman dalam satu areal lahan pertanian. Cara ini adalah salah satu alternatif untuk mengurangi resiko kegagalan usaha pertanian akibat kondisi cuaca ekstrim, serangan hama pengganggu tanaman, dan fluktuasi harga pasar. Diversifikasi tanaman juga dapat berkontribusi bagi konservasi lahan, menjaga kelestarian habitat binatang, dan meningkatkan populasi serangga yang bermanfaat. Dari segi ekonomi, diversifikasi tanaman dapat meningkatkan pendapatan petani sepanjang tahun dan meminimalkan kerugian akibat kemungkinan kegagalan dari menanam satu jenis tanaman saja.

6. Pengelolaan Nutrisi Tanaman

Pengelolaan nutrisi tanaman diperlukan untuk meningkatkan kondisi tanah serta melindungi lingkungan tanah. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan pupuk kandang dan tanaman kacang-kacangan sebagai penutup tanah yang tidak hanya menyuburkan tanah tetapi juga dapat menekan biaya pembelian pupuk anorganik yang harus dikeluarkan. Beberapa jenis pupuk organik yang dapat dimanfaatkan antara lain pupuk kompos, kascing, dan pupuk hijau (dedaunan).

7. Agroforestri (wanatani)

Agroforestri merupakan sistem tata guna lahan (ushatani) yang mengkombinasikan tanaman semusim maupun tanaman tahunan untuk meningkatkan keuntungan, baik secara ekonomis maupun lingkungan. Sistem ini membantu terciptanya keanekaragaman tanaman dalan suatu luasan lahan untuk mengurangi resiko kegagalan dan melindungi tanah dari erosi serta meminimalisir kebutuhan pupuk dari luar lahan karena adanya daur-ulang sisa tanaman (Ruijter dan Agus, 2004).

 

Penutup

Kemajuan ilmu pertanian telah memungkinkan manusia untuk memanipulasi seluruh ekosistem guna memenuhi kelangsungan hidup mereka. Seiring dengan pertumbuhan jumlah populasi yang kian pesat, ketersediaan sumberdaya alam pun menjadi terbatas jumlahnya. Air, tanah dan bahan bakar merupakan tiga komponen penting yang menentukan kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya, karenanya adalah suatu keharusan untuk memanfaatkannya seefisien mungkin. Perbandingan antara pertanian konvensional dan pertanian berkelanjutan menunjukkan  bahwa pertanian berkelanjutan terbukti memiliki keunggulan baik dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Pertanian berkelanjutan mengkonsumsi lebih sedikit air dan energi, meningkatkan komposisi unsur hara tanah, menekan biaya produksi, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta ramah terhadap lingkungan. Sementara pertanian konvensional tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan dunia tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan dari sistem pertanian berkelanjutan tersebut adalah alasan mengapa pertanian berkelanjutan adalah cara terbaik untuk mengakomodasi kebutuhan pangan dan mempertahankan kelestarian lingkungan, baik untuk generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

 

Pustaka

Arsyad, Sitanala (2006) ‘Konservasi Tanah dan Air’, IPB Press, Bogor.

Bendang, Sukardi, ‘Pertanian Berkelanjutan vs Pertanian Konvensional’, https://sbendank.wordpress.com/prinsip-prinsip-pertanian-berkelanjutan/, diakses 6 November 2014.

Endah, Joesi dan Zaenal Abidin (2002) ‘Membuat Tanaman Buah Kombinasi’, AgroMedia Pustaka, Jakarta.

Fadlina, Inneke Meilia dkk (2013) ‘Perencanaan Pembangunan Pertanian Berkelanjutan  (Kajian tentang Pengembangan Pertanian Organik di Kota Batu)’,  Sustainable Development of Agrocultural (Studies on Organic Agricultural Development in Batu City), J-PAL, Vol. 4, No. 1.

Fauzi, A. (2004) ‘Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan’, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Juanda, Dede dan Bambang Cahyono (2005) ‘WIJEN : Teknik Budi Daya dan Analisis Usaha Tani’, Kanisius , Yogyakarta.

Keraf, A. S. (2002) ‘Etika lingkungan’, Penerbit Buku Kompas, Jakarta.

Maquito, Max (2012) ‘Sustainable Agriculture as an E3 Approach to Reducing Rural/Urban Poverty’, 14 th SGRA Shared Growth Seminar “The Urban-Rural Gap and Sustainable Shared Growth” April 26, 2012 at the School of Labor and Industrial Relations, University of the Philippines

Ruijter, J. dan F. Agus (2004) ‘Sistem Agroforestri’, World Agroforestry Centre.

Rukmana, Didi (2012) ‘Pertanian Berkelanjutan: Mengapa, Apa dan Pelajaran Penting dari Negara Lain’, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin.

Sahirin,N. (2003) ‘Pertanian Organik : Prinsip Daur Ulang Hara, Konservasi Air dan Interaksi Antar Tanaman’, Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sudirja, Rija (2008) ‘Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Berbasis Sistem Pertanian Organik’, disampaikan pada acara Penyuluhan Pertanian, KKNM UNPAD Desa Sawit Kec. Darangdan Kab. Purwakarta, 7 Agustus 2008.

Tandisau, Peter dan Herniwati (2009) ‘Prospek Pengembangan Pertanian Organik di Sulawesi Selatan’, Prosiding Seminar Nasional Serealia  2009. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan.

Theocharopoulos, Athanasios et al. (2012) ‘Sustainable Farming Systems vs Conventional Agriculture: A Socioeconomic Approach’, Sustainable Development - Education, Business and Management - Architecture and Building Construction - Agriculture and Food Security, Prof. Chaouki Ghenai (Ed.)

Administrator