Alternatif Mengurangi Banjir, Sampah dan Persediaan Air

02 Oktober 2014
Alternatif Mengurangi Banjir, Sampah dan Persediaan Air

(Oleh : Ponty Wijaya, S.Hut.MM)

 

Kota Pontianak terletak pada Lintasan Garis Khatulistiwa dengan ketinggian berkisar antara 0,1 sampai 1,5 meter diatas permukaan laut. Struktur tanah kota merupakan lapisan tanah gambut bekas endapan lumpur Sungai Kapuas. Lapisan tanah liat baru dicapai pada kedalaman 2,4 meter dari permukaan laut. Kota Pontianak termasuk beriklim tropis dengan suhu tinggi (28-32 °C dan siang hari 30 °C).

Besarnya curah hujan di Kota Pontianak berkisar antara 3.000–4.000 mm per tahun. Curah hujan terbesar (bulan basah) jatuh pada bulan Mei dan Oktober, sedangkan curah hujan terkecil (bulan kering) jatuh pada bulan Juli. Jumlah hari hujan rata-rata per bulan berkisar 15 hari.

Mengenai air, kota-kota besar di Indonesia termasuk kota Pontianak telah mengalami dua hal berlawanan, misalnya  di permukaan tanah, banjir rob mudah terjadi, sementara di bawah tanah, permukaan air tanah (water table) terus mengalami penurunan. Pada musim hujan air melimpah dan pada musim kemarau air sulit didapatkan karena sumber bahan baku air PDAM juga mengalami pengurangan debit air dan daya jangkau pelayanan air PDAM masih belum optimal untuk seluruh wilayah Kota Pontianak.

Untuk mencegah terjadinya banjir, mengurangi jumlah sampah dan sekaligus dapat menjaga cadangan air pada musim kemarau di Kota Pontianak, ada 2 (dua) cara yang bisa dilakukan yaitu dengan membuat sumur resapan air hujan dan lubang resapan biopori. Meskipun tidak seluruh masalah dapat diatasi, namun sumur resapan dan lubang resapan biopori ini secara teoritis akan banyak membantu meringankan kedua masalah tersebut sekaligus.

 

 

 

 

 

Op. Bid Pertanian